Diposkan pada Pendidikan

Visiting Odyssey Global Preschool Singapore

23rd August 2017
Today we plan to visit the one of preschool in Singapore called Odyssey. We have applied to Odyssey since three months ago. It was not easy to persuade preschool in Singapore that we will observe and discuss about early childhood education with them. Unfortunately, nothing impossible. They gave us confirmation that we can learn in Oddyssey although we are not permitted to take any pictures in that.

About 9.30 a.m we arrive in Odyssey preschool. From looking the building, I feel that the facilities are very luxurious. In the outdoor, there are a wide playground with many play tools and a white sand pool. The building seems like a hotel with the elegant architecture. Before entering the school, we have to follow the rules. Our temperature must be checked by the staff, if it is okay, we could enter the room. After that, we have to wash our hand, and follow the staff. We are invited to the second floor that it is like a library room. When we follow the staff, we also pass many classrooms that are very good in arrangement. It is like a “dream school” that is in many theoritical books. Now, I look directly and too quickly.

In the library, there are five staffs who will acompany us to take round the school. They introduce theirselves one by one, and also introduce the director of Odyssey preschool. The also remind us about the rules during the tour. They divide us to four groups, and every group is accompanied by one staff. I and my friends follow the staff named Ms. Sun Shi Juan. Firstly, we visit the nursery classroom. In there, Ms. Juan ask to me what the parts of classroom that we want to know. I say that we want to know about the learning materials, a learning style, and the classroom management. Then Ms. Juan explain every area in that class such as light area, literacy area, inquiry area, book area, numeracy area, chinese area, and IT area. She explain that in inquiry area, there are many process that involve children to present their curiosity and their thinking. There are many questions from children before the inquiry activity is done. The example of inquiry activities is experiment about affloat and sink. In that area, there are many materials such as aquarium, water, and many objects that will be tried to the experiment. In the book area, there are many books and the area is designed very comfortable for children with pillows and dolls. The light area is adapted from Reggio Emilia approach with the complete properties like a OHP, transparent pictures, clothes designed like a cave, and wayang. Children can explore and play with shadows shaped from the activity. The literacy area seems like a preparation for children to recognize the letter. The activities include imitating letter form with threads, writing, and drawing. A numeracy area is completed with many toys that related to numbering, counting, and clasification. A chinese area include some materials that stimulate children to know about chinese culture, chinese language, and chinese letter. In every class, there are three teachers, they are the curiculum planner, main teacher, and chinese teacher.

Then we move to the next classroom, K-1 clasroom (kindergarten 1) for children who are 5-6 years old. Generally, every classroom have the same areas, but the goals of the learning are different. It is based on DAP and the needs of children. I am interested in the IT learning in that classroom. In every class, there are a computer with the high performance (apple) and the LCD. Ms….explains that sometimes teacher uses the computer to display the videos or pictures related to the topic in the learning activities.She also tell that parents can also use their gadget to monitor the children’s activities and their progression. There is an application that parents can access to know how their children’s assesments. Teachers always update children’s information in the application. Parents also can monitor children’s activities from the CCTV that can be accessed by their mobile phone and gadget in the lobby of the preschool. The another attractive thing is in every classroom there is a map displaying the children’s origins and children’s families.

Ms Juan invites us to go to the first floor. In the walls, there were many paintings made by children. They display that with the big piguras. We are invited to see the playground. Ms Juan explains that Odyssey is the preschool having the wider playground. She also say that the price of land in Singapore is too expensive. After that, we obtain opportunities to look the fine room which is very funtastic. In there, there are many music instruments, such as drums and traditional music from China. Not only music, but also there are many art tools like sculptures, chisels, and many tints.

Finally, all of groups gather in the fine room. Ms Juan and her friends then give us feedback about our tour and offer us to give the question. Without wasting the opportunity, I directly ask about how parents to be involve in the school activities. They ask that there are many spaces giving parents involvement, such as parenting, teacher’s guest, and in assesment process.

Iklan
Diposkan pada Pendidikan

Belajar Bersama di Zulfa Kindergarten, Choa Chu Kang Singapore

22 Agustus 2017

Kunjungan pertama yaitu kunjungan ke Zulfa Kindergarten. Sekolah ini memiliki 4 cabang di Singapura, antara lain berada di Choa Chu Kang, Sembawang, Pasir Ris, dan Jurong West. Zulfa memiliki dua program utama yaitu program pendidikan anak usia dini dan program enrichment yang disebut dengan madrasah.

IMG-20170822-WA0113

Program pendidikan anak usia dini di Zulfa Kindergarten memberikan pelayanan pendidikan kepada anak usia 3 sampai 8 tahun  yang dibedakan menjadi 4 kelompok usia, antara lain: prenursery group (usia 3-4 tahun), nursery group (usia 4-5 tahun), kindergarten 1 (usia >5 tahun), dan kindergarten 2 (usia > 6 tahun). Materi dan prinsip pembelajaran dalam setiap kelompok usia juga berbeda-beda, meskipun aspek pengembangannya sama, yaitu literasi, IT, sains, motorik, social emotional, language dan art. Prinsip pembelajaran untuk kelompok prenursery lebih kepada pengembangan social skill dan social interaction dengan berbasis pada kegiatan bermain, begitu pula dengan nursery yang masih menonjolkan pengembangan kemampuan social emotional. Berbeda dengan presnursey dan nursery, pada kelompok kindergarten 1 pembelajaran lebih diarahkan kepada persiapan numeracy dan literacy, sedangkan pada tingkatan kindergarten 2, anak sudah belajar mengeja (spelling) dan phoenix.

Program-program di Zulfa Kindergarten terbagi menjadi dua, yaitu program tahunan dan program semesteran. Untuk program tahunan terdiri dari haflah, family day, sports day, dan graduation day. Program semester terdiri dari our signature event (OSE), center performance, dan curriculum event. Dalam satu tahun, Zulfa Kindergarten membagi menjadi dua semester, dengan menentuka 4 tema pembelajaran. Tema pembelajaran meliputi tubuh dan diriku (body and ourselves), kendaraan (vehicles), pekerjaan (profession), dan binatang (animals). Masing-masing tema juga memiliki kekhasan jenis kegiatan pembelajaran, misalnya untuk tema kendaraan, kegiatan dapat berupa field trip ke museum maupun tempat-tempat umum.

Penilaian atau assesmen yang digunakan di Zulfa Kindergarten mencakup portofolio selama satu semester yang mencakup semua domain perkembangan anak, lesson plan yang menerapkan berbagai pendekatan dan materials, serta menggunakan workbook dan expression book.

IMG-20170822-WA0109

Kurikulum Zulfa Kindergarten disusun oleh tim tersendiri yang berasal dari perwakilan keempat cabang Zulfa. Meskipun Zulfa kindergarten tergolong PAUD swasta, tetapi mereka tetap mempertimbangkan aturan kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Setiap tahun, supervisor dari Ministry of Education akan memeriksa pembelajaran di Zulfa.

Diposkan pada Budaya, Pendidikan, Tak Berkategori

Pemuda: Sebuah Refleksi

Pemuda merupakan generasi penerus kemajuan baik bagi lingkungan keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara. Sudah sepantasnya pemuda memiliki tekad yang bulat, semangat yang membara dalam mewujudkan kemajuan tersebut, salah satunya melalui proses pendidikan.

Pemuda hendaknya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya agar memiliki wawasan dan pengetahuan yang mumpuni sehingga dapat mewujudkan cita-cita terutama kemajuan lingkungan terdekatnya. Tak terkecuali pemuda-pemudi di lingkungan Desa Gadingharjo yang sebagian besar telah memiliki kesadaran tinggi untuk terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Ironisnya, di sisi lain, masih banyak pula pemuda yang tidak dapat melanjutkan ke SMA maupun Perguruan Tinggi dan bahkan putus sekolah. Faktor penyebab mereka tak bisa melanjutkan sekolah pun terbilang banyak, mulai dari motivasi diri yang rendah hingga tuntutan ekonomi yang semakin hari kian pelik.

Pemuda yang putus sekolah biasanya mereka bekerja serabutan, ada yang menjadi buruh tani, kuli bangunan, hingga pekerja tambang pasir. Pekerjaan terakhir ini yang perlu digaris bawahi, kenapa? Karena pekerjaan tersebut memiliki sisi pro dan kontra yang menyebabkan dilematis berbagai pemangku kebijakan. Desa Gadingharjo sendiri memiliki lahan pasir yang dulunya sangat luas. Namun sekarang, dengan bertambahnya jumlah pertambangan tiap harinya, pasir kian menipis dan permukaan menjadi landai. Telah ada pelarangan dari birokrat perihal tersebut, namun masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut, termasuk pemuda masih mengindahkan larangan itu. Ini menyangkut persoalan tentang perut, siapa yang dapat mencegahnya. “Kami butuh makan, hidup, dan penghidupan yang layak.” Begitulah alasan mereka, sungguh dilematis dan terkesan sulit untuk mencari solusinya.

Namun, bukannya tidak ada solusi untuk itu. Kita tahu bahwa daerah kita memang rawan bencana tsunami dan pasir satu-satunya benteng pertahanan jika bencana itu datang. Entah, yang terpenting memang sementara ini uang, bukan dampak jangka panjang. Solusi bisa saja diberikan, asal ada pihak yang bisa memperkerjakan pekerja tambang pasir ke dalam pekerjaan yang lebih layak dengan upah yang lebih dari Rp. 200.000,00 per hari sesuai dengan pendapatan tambang pasir. Tidak ada yang bisa menjamin mereka. Namun, jika kuantitas upah yang tak ada patokan sebesar itu, mungkin banyak pekerjaan lain yang lebih bertanggungjawab dan tidak merugikan aset negara dan orang lain. Terutama pemuda, mereka dapat dibekali berbagai keterampilan yang linier dengan kebutuhan masyarakat saat ini, misalnya berkaitan dengan otomotif, peternakan, pertanian alternatif dan lain sebagainya. Selain dibekali keterampilan yang relevan, mereka juga perlu diberikan modal serta pendampingan usaha. Apabila mereka telah mandiri dan dapat mengelola usahanya sendiri, pembinaan bisa dihilangkan. Semoga saja pihak-pihak memiliki kewenangan tersebut segera memberikan solusi agat peran pemuda benar-benar memberikan kemajuan bagi lingkungannya, bukan membawa lingkungan menjadi lebih buruk dari sebelumnya.

Salam Pemuda!!!!

Diposkan pada Budaya, Pendidikan

1st Conference in Malaysia

Bagian III
22 November 2017
Bangun pagi-pagi dan kami sudah bersiap untuk pergi ke IOI hotel di Putrajaya. Hari sebelumnya ketika kami pulang dari hotel, kami sudah memesan uber untuk digunakan pagi ini. Sekitar 20 menitan kami menunggu dan menghubungi supir uber, namun mobil terjebak macet. Agak dilematis, dan nggak enak, kami memilih untuk memesan uber lagi. Sekitar 20 menit kemudian, uber yang kami pesan akhirnya datang.
Setelah membayar 17RM, kami kemudian turun dan agak tergesa-gesa karena memang Panel Session pagi ini sudah dimulai. Aku pun kemudian memasuki ruangan dan mempersiapkan presentasi. Ketika itu, aku mendapat urutan terakhir di panel ku. Hatipun seakan belum tenang dan panik ketika menunggu giliran untuk tampil.
Di tengah-tengah Panel Session, ketika itu Dosen India mempresentasikan tentang metode berhitung (bisa dibilang mirip Jarimatika), dan dengan bahasa Inggris, beliau memintaku untuk maju ke depan. Aku diminta memeragakan apa yang beliau maksud. Sedikit mengurangi kepanikanku sebelum tampil.

img20161122092540
Tiba giliran aku harus tampil. Dengan sedikit canggung, aku maju ke depan, dan menaiki mimbar. Dengan kemampuan speaking pas-pasan aku menjelaskan tentang research plan ku yang membahas tentang Produktivitas Pembicaraan di Kelas pada PAUD dihubungkan dengan kemampuan berbicara anak di PAUD tradisional dan alternatif. Dengan berusaha tetap fokus, aku memaparkan apa yang udah kupelajari dan kusiapkan semalam. Belum sampai ke kesimpulan, moderator sudah memukul gelas dengan pensil, yang menandakan bahwa waktu presentasiku telah habis.

img20161122095948
Sebelum ke sesi discussion kami coffe break terlebih dahulu. Kami masih berantusias mengajak sebanyak-banyak presenter untuk ngobrol mengasah kemampuan speaking dan listening kami.
Sesi discussion kali ini, kami dibagi secara acak. Setiap grup menempati round tabel dan dipimpin oleh satu promotor. Ketika itu, Dr. Keith dari Griffith University Australia menjadi promotor di kelompok kami. Kami memulai diskusi secara bergantian dengan memaparkan garis besar riset kami. Jadi setiap riset diberikan masukan dari semua presenter dan kemudian promotor juga memberi masukan sekaligus meluruskan. Ketika itu aku mendapatkan masukan langsung dari Dr. Keith. Karena beliau ngomongnya too fast, akunya takut gagal paham, makanya suara beliau aku rekam make handphone biar suatu saat bisa kudengerin lagi. Masukan dan pertanyaan beliau berusaha aku jawab dan aku tanggapi.

img_20161122_160254

Foto Bersama Dr. Keith

Setelah semua presenter mendapatkan masukan untuk papernya, maka sesi selanjutnya yaitu penutupan. Pada acara closing tersebut, para presenter mengungkapkan kesan, pesan, dan harapannya. Ketika itu, salah satu Professor dari Jepang kagum akan semangat dari teman-teman Pascasarjana UNY, hingga beliau memanggil salah satu teman kami untuk maju memberikan kesan dan pesan tentang conference. Setelah acara resmi ditutup, kami kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat. Lagi-lagi kami memakai uber dengan tarif yang sama ketika berangkat, yaitu 17RM.

23 November 2017
Pagi ini kami berencana untuk mencari oleh-oleh lagi. Kami bermaksud pergi ke Petaling Street, setelah sebelumnya gagal kesana karena ada demo besar-besaran. Oh iya, hari ini teman sekamar kami (1 orang) akan pulang duluan ke Indonesia, dan tinggal aku sama Mbak Harsi. Jadi kami bantu-bantu bawaannya mbak Atik. Setelah memesan uber untuk ke stasiun Serdang (6RM), kami kemudian membeli tiket komuter tujuan KL Sentral (3RM). Sekitar 45 menit, kami menunggu komuter datang. Lumayan panas cuacanya saat itu. Setelah komuter datang, kami segera antri untuk masuk dan akhirnya mendapat tempat duduk dan mendapat hawa dingin.
Sesampai di KL sentral, kami kemudian mencari makan di foodcourt. Kami membeli nasi goreng ikan masin (7RM) yang rasanya uasiiiiiiiin banget. Setelah itu, kami kemudian mengantar mbak Atik untuk membeli tiket bus tujuan KLIA2.

img_20161123_224351
Tinggal aku dan Mbak Harsi, kami melanjutkan ke Petaling Street dengan menggunakan LRT Kelana Jaya tujuan Pasar Seni dengan membayar 2 RM. Sesampai di stasiun pasar seni, kami disambut hujan yang lumayan. Dengan bermodal payung, kami jalan kaki menuju Petaling Street. Di sana kami kemudian membeli berbagai oleh-oleh diantaranya: 4 bungkus sereal (@10RM), cokelat(@17RM), gantungan kunci (@6RM), 2 miniatur petronas (6RM), 3 kaos oblong (@10RM), teh tarik (@17RM) dan jajanan gurih-gurih (@10RM). Setelah belanja, kami pun kemudian tertarik membeli minuman yang namanya unik, yaitu air mata kucing. Dengan 2 RM, kesegaran air mata kucing bisa dinikmati. Rasanya seperti es gula jawa, tetapi ada ampas yang mirip leci.

img20161123170036
Kamipun kembali jalan-jalan dan agak tergoda dengan tas kulit yang didisplay di ruko di sepanjang jalan Petaling. Kami melihat-lihat, dan akhirnyaaaaaaaa tertarik membeli. Dengan sisa-sisa uang yang masih di dompet, hihi aku dan mbak Harsi membeli tas kulit ransel seharga 35RM. Gak mahal-mahal amatlah kalo dirupiahin,hehe

img_20161123_201400
Muter-muter sampai gempor, dan akhirnya kita nyerah dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Dengan berganti-ganti transportasi,mulai LRT dari Pasar Seni ke KL Sentral (2RM), kemudian berganti komuter (3RM), dan terakhir dengan uber (6RM).
Malam ini kami packing-packing karena aku sendiri besok siang jam 13.00 take off dari bandara KLIA. Tidak ingin telat, dan agak sedikit panik, aku pun kemudian memutuskan tidur.

img20161123145754
24 November 2017
Pagi ini, sekitar pukul 07.00, aku dan mbak Harsi sudah cek out dari hotel. Setelah cek out, kami mencari uber untuk mengantar kami ke stasiun Serdang. Sampai di sana, kami kemudian naik komuter menuju KL Sentral. Di KL Sentral, aku dan Mbak harsi berpisah. Mbak harsi yang melanjutkan perjalanannya ke tempat saudaranya, karena dia pulangnya baru besok, sedangkan aku, dengan memberanikan diri keluar dari KL Sentral menuju loket penjualan tiket bus. Dengan membawa koper, tas ransel, bantal, dan plastik bawaan, aku turun ke loket dan membeli tiket tujuan KLIA. Dengan membayar 10 RM aku mendapatkan tiket bus. Sekitar 5 menit busnya datang, dan koperku dimasukkan ke bagasi, sedangkan aku masuk bus.

img20161123154004
Perjalanan pertamaku sendiri di negeri orang. Sepanjang jalan menuju bandara KLIA, aku ngantuk dan tertidur. Sejam kemudian, kami sudah sampai di Bandara KLIA. Bandara yang super besar yang agak ribet juga mencari departure terminal. Dengan tanya ke police akhirnya sampai di depan check in lion. Namun, karena aku yang kepagian kala itu, counternya baru akan buka pukul 10.00, artinya dua jam lagi aku harus menunggu. Akhirnya aku jalan-jalan dulu mencari makanan pengganjal perut. Sepotong roti dan pop mie (8RM) dari Eleven aku makan sembari menunggu counter check in buka.

Dua jam kemudian, counter check in sudah buka, dan aku mulai memasukkan koperku dalam bagasi. Ketika antre, aku juga ketemu sama rombongan dosen UNY. Tetapi karena visiku kali ini aku ingin pergi sendiri, maka aku mendahului mereka. Tujuanku sih aku mau menguji diriku sendiri terlebih keberanian saat berpergian jauh.

Setelah koper masuk bagasi, aku kemudian ke bagian imigrasi dan mencari waiting room. Ketika menuju waiting room, yang menggunakan LRT, aku bertemu dengan sepasang kakek nenek dari Brasil yang merupakan penjelajah dunia. Sempat sedikit ngobrol sama mereka dan mempromosikan agar mereka mau berkunjung ke Indonesia. Aku juga sempat diperlihatkan foto-foto mereka saat keliling dari Afrika sampai Asia sepanjang 3 tahun terakhir. So romantic and amazing. Jadi baperrrrrrr.
Setelah keluar dari LRT, ternyata aku harus melewati semacam mall untuk sampai ke waiting room, terlalu besar nih bandara. Sampai di sana aku harus menunggu jam 11.00 untuk bisa masuk ke sana. Sebelumnya kami dicek oleh police terlebih dulu sebelum masuk ke sana.
Baru setelah masuk ke waiting room aku bertemu dengan teman-teman dari UNY yang menginap di hotel lain. Pukul 13.00, kami diminta memasuki pesawat. Perjalanan kali ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk tujuan Bandara Soekarno Hatta, karena harus transit dulu.
Dua jam di pesawat singa ini, penuh rasa tegang karena berkali-kali pilot menyatakan bahwa kami terkena cuaca buruk, namun dengan izin Allah, kami mendarat dengan sempurna di Bandara Soekarno-Hatta.
Keluar dari pesawat, aku kemudian mencari koper, namun tak disangka bagian penariknya patah, akhirnya aku harus menggotong koperku kemana-mana. Aku kemudian ke bagian baggage claim untuk melaporkan hal ini, namun birokrasi yang ribet dengan menyatakan kalau laporan harus dilakukan di Bandara tujuan akhir yaitu Adi Sucipto jogja. Oke deh, aku pun kesal dan langsung memasukkan koperku ke bagasi tujuan Jogja. Aku kemudian mencari makan karena amat sangat lapar. Dengan menu khas Indonesia, nasi putih pulen, capcay, dan Nugget, perutku akhirnya terisi. Hehe.. Setelah makan di foodcourt bandara, aku kemudian check in dan menunggu jadwal take off pukul 19.00.

IMG20161124155522
Cuaca malam itu lumayan dingin dan gerimis. Setelah menaiki bus, aku kemudian memasuki pesawat. Dengan konndisi remang-remang, si singa take off dengan perlahan. Butuh perjalanan sekitar satu jam untuk sampai ke Jogja. Kuhabiskan perjalanan malam ini dengan melihat pemandangan indah dari dalam pesawat saat malam hari.
Sejam kemudian pesawat mulai menurunkan ketinggiannya dan akan mendarat. Ketika mendarat, cipratan air hujan mengenai jendela di sampingku. Aku agak panik. Kemudian perlahan pesawat menempatkan diri ke posisinya.
Setelah keluar dari pesawat, aku pun berlari untuk menghindari gerimis dengan menggendong tas ransel dan membawa belanjaan. Setelah menemukan koperku, kemudian aku melaporkan kerusakan koperku di pihak bandara. Sangat melelahkan dan akhirnya aku sudah menginjak Jogja. Alhamdulillah.
Hopefully, in other opportunities, I can go to other countries to expand my experiences. Not only academic experiences, but also life experiences. All of them are very precious for me. See you next year! 2017!!!!

Diposkan pada Budaya, Pendidikan

1st Conference in Malaysia

Bagian II

20 November 2016

Pagi ini kami bertiga bangun agak siang karena agenda kami hanya pindah ke hotel saja. Mbak Arin sudah sibuk memasak soto pagi ini untuk kami. Kami pun ikut membantu menyiapkan bahan-bahan. Kuah soto begitu menyegarkan di pagi itu, ditambah ayam suwir dan uba rampe lain yang melengkapi kelezatan soto ala Indonesia di negara tetangga.

Setelah mandi, beres-beres, kami pamit dengan Mbak Arin untuk pindah ke hotel. Bisa dibilang ini waktu perpisahan kami dengan Mbak Arin yang udah baik sama kami selama 4 hari di Malaysia. Kami hanya bisa memberi boneka yang nggak seberapa untuk ultah mbak Arin dan selebihnya ucapan terimakasih dari kami. Mbak Arin pada mulanya tidak mau menerima pemberian kami, tetapi kami paksa dan malah Mbak Arin memberi kami sepatu dan jilbab.

Selepas keluar dari Flat di Putra Height, kami kemudian membeli camilan di kedai untuk menemani perjalanan kami selanjutnya. Setelah itu, kami menaiki taxi menuju ke stasiun LRT Putra Height. Kami membayar taxi sebesar 6RM. Dengan membeli koin seharga 4.7RM kami kemudian memasuki LRT Kelana Jaya tujuan KL Sentral.

Satu jam di dalam LRT dengan 20 kali transit, kami tiba di KL Sentral. Bawaan kami sudah beranak pinak (selain koper, kami juga sudah membawa tas plastik karena kemarin sudah belanja oleh-oleh). Kemudian kami memutuskan untuk membeli koin KTM Komuter tujuan Serdang karena hotel yang kami booking lewat traveloka berlokasi di Bukit Serdang. Biaya sewa hotel yang kami keluarkan sekitar 950 ribu untuk 3 hari 4 malam, sedangkan biaya komuter sekitar 4 RM tujuan serdang.

Melewati tangga eskalator kami mencari platform tujuan Serdang. Sekitar 15 menit menunggu, komuter tiba. Kemudian kami masuk, dan di dalam ternyata tidak ada tempat duduk yang kosong. Komuter ini sangat berbeda dengan LRT. Komuter seperti kereta Prameks kalau di Jogja dengan dikendalikan oleh masinis, sedangkan LRT dikendalikan oleh komputer. Lintasan komuter berada seperti kereta api biasa, sedangkan LRT berada di atas (mirip monorail). Secara kecepatan, jelas  berbeda. LRT lebih cepat dari komuter.

Berdiri dengan membawa bawaan banyak selama 30 menit lumayan melelahkan bagiku. Selama di perjalanan, aku merasa seperti di Indonesia, karena lokasi yang akan kami tuju mungkin bisa dibilang Suburb nggak seperti yang kami kunjungi sebelumnya. Setelah sampai di stasiun komuter, kami langsung turun, dan mencari taxi lewat uber app.

Ada yang lucu di stasiun ini, ada tulisan “Awas penyolok saku” di mana-mana. Tulisan itu memperingatkan kita untuk berhati-hati akan adanya copet. Sekitar 15 menit kemudian kami mencari sopir uber dimana. Agak crowded juga orang di pinggir jalan dekat stasiun hingga kami membutuhkan waktu lumayan lama untuk mencari taxi uber. Setelah ketemu, kami kemudian langsung berangkat ke Comfortel bukit Serdang. Biaya Uber dari KTM Serdang ke Hotel yaitu 6RM.

Setelah kurang lebih 20 menit, kami tiba di Comfortel. Hotel yang sekaligus Sport Arena ini lumayan susah ditemukan lewat aplikasi uber, pantas kami tadi sempat kesasar-sasar sebelum tiba di sini. Kami kemudian ke bagian recepsionist untuk check in. Disitu kami diminta memberikan jaminan 50 RM yang nantinya kami bisa ambil setelah check out.

Kami mendapat kamar 206. Fasilitas kamar standar, 3 bed, shower, AC, closet duduk, hair dryer, heater, serta air minum. Kami tidak dapat fasilitas lemari maupun breakfast, namanya juga backpakeran. Untung di bawah ada foodcourt yang harganya lumayan terjangkau (5-10RM) jadi kita bisa makan di sana. Kemudian kami menghabiskan waktu untuk bersih-bersih dan belajar mempersiapkan conference esok hari.

21 November 2016

Jadwal pembukaan acara conference sekitar pukul 07.30. Selepas sarapan di foodcourt dengan mie seharga 6 RM dan teh tarik 2 RM, kami memesan uber tujuan Hotel IOI Putrajaya. Tidak lama uber pun datang, dan sekitar 30 menit perjalanan Serdang ke Putrajaya dibayar dengan 17RM.

Sesampai di Putrajaya, kami menunggu rombongan kami dari UNY yang menginap di hotel lain. Setelah semua lengkap, kami kemudian melakukan registrasi ulang di depan dan kemudian masuk ke ballroom seminar.

img_20161121_083931

Foto sebelum registrasi ulang

Seminar dibuka oleh welcoming note from conference convenor associate Prof. Dr. Seloamoney (IUKL,Malaysia) kemudian dilanjutkan goodwill message from IsfTe Founding Member Dr.Colin Mably (USA), lalu message from secretary general of IsfTE Prof. Dr. Jacky Pow (Hongkong), kemudian berlanjut foreword by president &vice chancellor of IUKL Prof. Dr. Roslan Zainal Abidin (Malaysia), dan ditutup dengan officiating address by chairman, IUKL board of Governors Y.Bhg. Tan Sri Datuk Dr. Hadenan Abdul Jalil (Malaysia).Setelah dilakukan sambutan dari beberapa pihak, acara selanjutnya yaitu foto bersama dengan peserta seminar dan para tamu undangan yang hadir.

img_20161121_170003

Rombongan Mahasiswa PPs UNY

Delegasi UNY berkesempatan foto bersama dengan keynote speaker dan jajaran tamu undangan dengan membawa spanduk yang dibawa dari UNY. Delegasi UNY yang terdiri dari mahasiswa Pascasarjana UNY dan dosen FE UNY membaur menjadi satu untuk sesi foto bersama ini. Sekitar 26 orang dari UNY ikut berpartisipasi dalam seminar ini.

Foto Bersama Keynote Speaker, Dosen, Akademisi, dan Praktisi

Acara dilanjutkan dengan coffe break. Coffe break merupakan waktu yang tepat untuk para mahasiswa mencari relasi sebanyak-banyaknya dengan peserta seminar yang lain. Pesan dosen pembimbing kami, Pak Setya, bahwa kita harus mengajak sebanyak-banyaknya orang peserta seminar untuk ngobrol bareng dengan kita. Aku sendiri mencoba berbicara dengan dosen dari India, akademisi dan kepala sekolah dari Malaysia, guru dan dosen dari China, serta guru dari Taiwan. Dengan aksen bahasa Inggris yang berbeda-beda, aku mencoba memahami perkataan mereka dan mencoba mengajukan berbagai pertanyaan. Sungguh pengalaman yang luar biasa.

Setelah coffe break selesai, acara selanjutnya yaitu pemaparan materi dari keynote speaker 1 yaitu Prof. Emetus Dato dari Malaysia. Beliau menyampaikan tentang tema conjuring the education phoenix, call for the scholar teacher. Tema ini cukup menarik, mengingat fenomena guru saat ini yang masih berpendidikan rendah dan kadang tidak relevan dan linier jurusan kuliahnya dengan mata pelajaran yang diampu. Di Malaysia sendiri pemerintah masih didorong kuat untuk mengeluarkan kebijakan agar guru di Malaysia, baik guru TK sampai SMA haruslah lulus sarjana pendidikan.

Selain itu, fenomena saat ini menunjukkan bahwa seseorang yang ingin menjadi guru dikarenakan dorongan iming-iming menjadi pegawai negeri sipil. Hal tersebut sungguh miris, karena guru seharusnya pekerjaan yang mulia, nobel profession not a civil servant bukan pula menjadi politisi.

Guru merupakan pahlawan yang patut dihargai. Yang bisa mengatasi permasalahan terkait manusia. Bisa mengubah paradigma manusia dan juga bisa mengembangkan intelektual manusia. Tanpa ada guru, tidak akan ada arsitek, doktor, bahkan presiden.

Permasalahan konflik antar negara (bom, genosida, nuklir) yang sering kita lihat di  TV maupun media lain memberi gambaran bahwa saat ini kondisi perdamaian sedang memburuk. Butuh sebuah ketahanan hidup yang berkelanjutan. Peran guru di kelas sangatlah penting, di mana guru dapat mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang jauh dari kekerasan dan konflik  kepada anak didiknya. Guru mengajarkan nilai persamaan, kebebasan, dan kebaikan.

Komunitas guru Internasional cukup memegang peran penting. Guru dapat mengembangkan gagasannya untuk pendidikan melalui bukti-bukti maupun kurikulum tersembunyi di sekolah. Kurikulum didesain untuk memfasilitasi dan mengontrol attitude  anak didik.

Materi kedua dipresentasikan oleh seorang akademisi dari Rusia (aku lupa, tapi aku ada fotonya- di atas ya fotonya hihi) dengan tema learning to know, to do, to be, and to live together : reflection of global citizenship education from a scandinavian prespective. Tema ini kurang lebih berisi tentang apa perubahan dan prespektif akibat adanya proses globalisasi, dimana proses tersebut merupakan proses dari penggabungan secara internasional yang meliputi perluasan, perdalaman, percepatan hubungan/relasi secara mengglobal.

Setelah keynote speaker kedua selesai memaparkan presentasinya, kami kemudian dipersilahkan untuk meninggalkan ballroom putrajaya 1 menuju restaurant untuk lunch bersama. Berbagai macam makanan, mulai dari sate,burger, soto, dan menu prasmanan (daging, ikan, ayam, segala macam lemak dan protein hewani), es krim, segala macam dessert disajikan dalam lunch. Begitu lengkap, mungkin karena bayar seminarnya mahal ya jadi makanannya seabrek kek gini wkwkwkw.

Setelah kenyang, kamipun tidur, *hush maksudku kami kemudian sholat dan kembali ke ballroom. Sampai di ballroom, aku agak terkejut karena ruang sudah dibagi 2 space dan artinya aku kesulitan mencari goodybag seminarku yang berisi materi seminar, souvenir, dan yang paling krusial adalah kacamataku ada disana. Panik lah ya….? aku pun menghubungi panitia agar goody bagku segera ditemukan, dan alhamdulillah ketemu deh.

img20161121115317

Suasana Panel Session

Kemudian aku masuk ke ruang 1 di mana disitu ada beberapa teman satu kampus yang mendapat jatah presentasi. Peserta dari berbagai negara juga sudah standby di ruangan untuk menyaksikan sekaligus mempersiapkan presentasi. Aku yang mendapat giliran presentasi esok haripun mendapat kesempatan untuk melihat suasana presentasi sore ini. Ada sekitar 13 orang yang akan mempresentasikan papernya. Satu term ini memiliki kesamaan tema. Satu orang mendapat kesempatan 10 menit untuk presentasi di depan (tanpa membuka pertanyaan) jadi Cuma mempresentasikan saja. Moderator akan memberi tanda bunyi ketukan gelas apabila waktu presentasi 10 menit telah habis.Ketika itu aku ikut deg-degan ketika harus melihat teman-temanku satu per satu maju ke depan untuk memberikan penjelasan tentang tulisan mereka. Aku hanya belum bisa membayangkan bagaimana aku besok saat presentasi seperti itu. Dilihat oleh banyak orang yang notabene semua adalah dosen dan peneliti? Hmm.

Setelah coffebreak acara dilanjutkan presentasi sampai pukul 17.00. Kemudian acara ditutup dan akan dilanjutkan esok hari. Aku, dan kedua temanku pun kemudian memesan grab untuk mengantar kami kembali ke hotel. Dengan membayar 17 RM dan dengan waktu tempuh 30 menit kami sampai di hotel dengan kondisi yang melelahkan. Sebelum masuk kamar, kami memesan nasi goreng dan teh tarik dulu di kantin hotel. Nasi goreng dan teh tarik dibanderol dengan harga 8 RM.

Setelah bersih-bersih dan makan, masing-masing dari kami kemudian sibuk mempersiapkan materi untuk presentasi dan diskusi esok hari. Semoga semuanya besok lancar.. AAmiin

…… (to be continued)

Diposkan pada Tak Berkategori

1st Conference in Malaysia

Bagian I

17 November 2016

Terbangun sekitar pukul 05.00 WIB setelah kurang lebih hanya 5 jam aku tidur malam ini. Semalam setelah selesai tampil di acara Kongkow Budaya Semarak Mahakarya KMP UNY, aku memutuskan untuk langsung pulang. Setengah ngantuk, capek, lapar aku mengegas motorku dengan kencang. Sejam lebih aku baru sampai rumah. Sesampai di rumah, aku masih harus beres-beres packing untuk mempersiapkan bawaan yang harus dibawa besok.

img20161117073126Siang ini, pesawat yang aku tumpangi jadwal take offnya sekitar pukul 11:45 WIB. Pukul 10:00 WIB, aku sudah sampai di Bandara International Adi Sutjipto Yogyakarta. Check in sana, check in sini akhirnya kami tiba di ruang tunggu untuk maskapai Airasia tujuan Kuala Lumpur. Sejam menunggu akhirnya kami diminta untuk boarding dan memasuki pesawat.

img20161117135511

Penerbangan kali ini membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan waktu keberangkatan dari Jogja pukul 12:05 WIB dan tiba di Kuala Lumpur pukul 15.30. Selisih waktu antara Jogja dan Kuala Lumpur ialah satu jam. Setelah memasukkan tas ransel ke kabin pesawat, aku kemudian duduk di seat 6C. Aku berdampingan dengan bapak-bapak paruh baya. Sepanjang perjalanan kami mengobrol dan ternyata bapak tersebut sudah 30 tahun bekerja di Selangor. Sekitar 1 jam berada di pesawat, para awak kabin/pramugari menawarkan makanan yang bisa dibeli oleh penumpang. Karena aku merasa lapar,aku pun membeli. Makanan yang aku beli saat itu bernama Ashok’s Butter Masala with Chicken Briyani yang merupakan makanan India. Makanan tersebut terdiri dari nasi merah, kuah kari dan ayam iris, serta paduan sayuran dengan kari. Rasanya hmmm lumayan leza (efek kelaparan mungkin). Untuk minumannya aku pesan air mineral untuk menetralkan rempah yang cukup kuat pada makanan tersebut. Dengan merogoh kocek 20 RM atau setara 60ribuan perut aman terkendali di dalam pesawat.

img20161117125414

Lezat (efek lapar)

Ketika pesawat bersiap landing, pemandangan perkebunan sawit cukup menyita perhatianku. Aku yang akhirnya pindah tempat duduk di dekat jendela, dengan puas melihat pemandangan dari dalam pesawat. Sekitar 20 menit, akhirnya pesawat landing dengan mulus di Bandara KLIA 2. Keluar dari pesawat, aku dan dua orang temanku mengurus imigrasi yang cukup memakan waktu karena harus antri. Paspor dicap, aku difoto, serta pengambilan sidik jari. Setelah urusan keimigrasian selesai, kami mencari koper dan keluar dari bandara. Agak ribet juga sih, karena bandara KLIA2 sangat luas, dan dilengkapi dengan Mall yang besar.

img20161117162749

Sesampai di terminal kedatangan, kami dijemput oleh saudara dari salah satu teman. Kami diajak menaiki bus untuk menuju KL Sentral. Tiket bus seharga 12 RM dengan fasilitas bagasi, AC, dan tempat duduk. Bus memerlukan waktu sekitar 1-1,5 jam menuju KL Sentral. Di sepanjang perjalanan, kami menikmati pemandangan Malaysia yang cukup berbeda dengan di Indonesia. Jalanan lengang, jarang ada sepeda motor, traffic light begitu rapi bahkan tidak ada bunyi klakson karena antar kendaraan saling memberi jalan.

img20161117174717

Dari dalam bas

Sesampai di KL Sentral, kami kemudian menurunkan koper, dan memasuki Stasiun KL Sentral. Di sini, kami memilih LRT Kelana Jaya untuk mengangkut kami ke Platform/kontrakan saudara teman di Putra Height. Dengan mesin pintar, kami membeli tiket, dan mendapat seperti koin plastik yang dipakai untuk masuk ke kereta. Harga tiket dari KL Sentral ke Putra Height sebesar 4.70 RM. Karena kami tiba di KL Sentral sekitar pukul 18.30, maka kondisi LRT cukup ramai.

img20161117155823

Ini mall apa bandara yah?

Dengan bawaan yang lumayan banyak, aku berdiri di dalam LRT. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke stasiun Putra Height. Ngantuk, capek, lapar campur jadi satu, tetapi harus tetap mandiri dan tidak boleh mengeluh. Sesampai di stasiun sekitar pukul 20:00. Kami menunggu bas (bus) yang akan menuju kontarakan. Cukup lama menunggu, dan bus tidak juga datang, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan taxi bermeter. Dengan biaya 5RM, kami sampai di kontrakan. Sesampai di kontarakan yang berada di lantai 7, kami meletakkan koper dan ransel dan kemudian kelar untuk mencari kartu perdana dan mencari makan. Sejak tiba di KLIA 2, kartu Indonesiaku roaming dan belum bisa menghubungi kerabat yang ada di Indonesia.

img_20161117_201706

Muka kucel seharian nggak mandi

Kami menaiki bas rapid KL dengan biaya 1 RM menuju konter dan rumah makan di sekitar Putra Height. Uang 1 RM dimasukkan ke dalam mesin, dan secara otomatis keluar semcam struk tiket bus tersebut. Sesampai di konter, kami memilih milih kartu yang tentunya paling murah dan kuotanya banyak. 20 RM dengan kuota 1 GB berlaku seminggu akhirnya kami beli. Setelah beres urusan komunikasi, kami melanjutkan makan di warung Indonesia. Aku memesan ayam penyet dengan rasa khas Indonesia siap disantap. Teh hangat melengkapi kenikmatan menu malam ini. Ayam penyet dengan teh panas dibanderol seharga 8 RM. Setelah kenyang, kami kembali ke kontrakan dengan menaiki bus 1RM. Kali ini kami harus berlari-lari mengejar bus. Dan waktu menunjukkan pukul 22.00

Sesampai di kontrakan kami kemudian istirahat dan merencanakan esok hari kita akan mager aja di kontrakan, hehe. Setelah bersih-bersih badan, kami kemudian istirahat.

18 November 2016

Pagi ini, kami bangun agak siang. Bersama mbak Arin, kami memasak sup dan mendoan khas Indonesia. Sehabis sarapan, kami mandi dan menyelesaikan membuat presentasi paper. Jam demi jam kami habiskan dengan bergulat dengan paper. Rasa bosan dan suntuk menghantui. Kami pun merencanakan untuk turun ke kedai membeli makanan dan ice cream. Kami membeli ice cream rasa cendol seharga 1 RM. Rasanya unik seperti burjo dan cendol ditambah gula jawa.. Mau dan mau lagi. Hihihi

Kami tidur agak awal karena terlalu capek mengerjakan paper, dan di tengah malam ternyata Mbak Arin membelikan kami roti canai. Rasanya rotinya gak ada rasanya tetapi setelah dicelupkan di kuah kari rotinya jadi rasa kari. Tastenya mantep dan jadi kepengin lagi hehe.

19 November 2016

Pagi ini kami bersiap untuk menjelajah Kuala Lumpur. Berbekal peta jalur transportasi umum, kami memutuskan berangkat bertiga tanpa ada guide. Sebelumnya kami mendengar bahwa hari ini akan ada demo menuntuk perdana menteri Malaysia, dan kami sempat tidak diizinkan oleh Mbak Arin untuk pergi dan tidak boleh memakai baju kuning maupun merah. Akan tetapi kami nekat pergi tentunya dengan memakai baju selain warna kuning dan merah.

img20161119091716

Nunggu bas 30 menit tetep hepi.

Sebelum berangkat kami mampir dulu ke kedai di seberang jalan kontrakan. Kami membeli makanan dan minuman untuk bekal perjalanan kali ini. Karena aku cukup membawa bekal buah dan kue dari Indonesia, so aku hanya beli minuman soda seharga 2RM. Setelah selesai berbelanja, kami menunggu bas di halte yang tak jauh dari kedai. Sekitar setengah jam kami menunggu, bas tujuan stasiun LRT Putra Height tiba, dan kami masuk serta memasukkan uang 1 RM ke mesin. Ada pengalaman unik salah satu temanku yang memasukkan uang 5RM dan mesin tidak memberikan kembalian. So, lebih baik make uang pas ya guys kalau mau naik bas di KL.

img20161119094427

Koin ajaib… (gumun)

Kurang dari 15 menit, kami tiba di stasiun Putra Height. Kami kemudian membeli tiket berupa koin pada mesin pintar. Tujuan kami adalah KLCC dimana disana kita bisa menyaksikan menara kembar petronas. Setelah menekan tombol sana-sini akhirnya dengan memasukkan uang sekitar 5RM kami akhirnya mendapatkan tiket. Kemudian kami mencari platform ke arah Gombak.

Ketika LRT datang, kami langsung masuk. Sepanjang stasiun yang dilewati LRT kelana jaya, banyak penumpang demonstran yang naik turun LRT. Kami awalnya agak was-was dan takut, namun setelah melihat bahwa aksi mereka damai dan tidak mengganggu kepentingan umum, akhirnya kami enjoy saja dan merasa aman karena banyak polis di sekitar kami.

img_20161120_002038

Pose Nahan bingung

Setelah tiba di KLCC, kami agak bingung pintu keluar mana karena stasiun ini terhubung dengan mall yang supergedheeeee. Kamipun kesana kesini mencari pintu keluar. Sesampai di pintu keluar, kami kemudian bertanya kepada polis dimana letak menara kembar, dan ternyata menara petronas tepat di depan kami (efek nggak cermat). Dan aku agak gak percaya akhirnya aku sampai sini (agak ndeso gapapa ya). Kemudian kami foto sana-foto sini, terutama foto kertas yang ada tulisan gitu (pesenan teman) ala instagram. Cuaca saat itu terik, sehingga kami agak kesulitan menemukan angle yang tepat agar foto terlihat bagus.

img_20161119_135347

Aduh masnya kok lewat gak bilang-bilang sih?

Tepat di depan petronas terdapat bus ungu (rapid KL) yang konon merupakan fasilitas gratis bagi turis untuk berkeliling di Kuala Lumpur. Kami pun bertanya kepada petugas apakah bas tersebut saat ini bisa diakses. Dan ternyata bisa diakses, tetapi penumpuang tidak boleh turun alias hanya bisa melihat dari dalam (efek ada demo) dan kita sempet ditakut-takuti sama petugas katanya gak boleh ke dataran merdeka, bukit bintang, nanti ditangkap. Kamipun takut, dan memutuskan untuk mencari destinasi lain. Agak puyeng juga sih karena pendemo memadati titik kota dan area wisatawan.

img_20161119_235615

Udah mbak narsisnya ><

Akhirnya kami memutuskan untuk ke Petaling Street dan Central Market untuk membeli oleh-oleh. Dengan naik LRT dari KLCC ke KL sentral, akhirnya kami tiba di KL Sentral. Karena perut sudah berbunyi, kami akhirnya mampir dulu ke foodcourt di KL sentral. Perhatian kami tertuju pada kedai India. Aku memesan tomyam ayam dan teh tarik, sedangkan temanku memesan keutiaw dan teh tarik. Tomyam dibanderol dengan harga 7RM, kietiauw 5RM dan teh tarik 2 RM. Menurutku rasa tomyam agak aneh karena asem-asem gitu ditambah kuah kari yang kental. Lumayan seger dan enak kuahnya. Teh tarik juga enak, ada rasa teh dan susunya. Makanan siang itu cukup membuat perutku tidak memberontak selama jalan-jalan. Wkwk

img20161119145228

Siap Santapppppp!

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menggunakan LRT ke stasiun Pasar Seni. Disana juga dipenuhi demonstran. Setelah tanya satpam dan polis, dengan berjalan kaki, kami akhirnya tiba di petaling street. Sepiiiiiiiiiiii. Tidak ada outlet yang buka. Cukup membuat kecewa kami, karena sudah jauh-jauh ternyata warung tutup semua gegara demo. Padahal di sana terkenal murmer untuk harga oleh-oleh pernak-pernik. Namun apa boleh buat. Kami akhirnya memutuskan untuk belanja di Central Market yang berjarak sekitar 0,5 km dari Petaling Street.

img20161119155949

Central Market di kala ada Unjuk Rasa

Di Central Market, outlet-outlet yang buka tidak terlalu banyak. Kami pun berkeliling melihat outlet yang buka dan melihat pernak pernik yang dijual disana. Aku sendiri tertarik membeli berbagai macam cokelat. Aku membeli 2 bungkus cokelat sereal kering  (@9.9 RM), teh tarik isi 15 pcs (17RM), cokelat isi almond (17RM), dan cokelat susu (17 RM). Selain itu, aku juga membeli kaos oblong putih 3 pcs yang rencananya akan kupakai karena aku membawa baju ganti terbatas ke Malaysia. 3 pcs kaos harganya 27RM. Ketika mau keluar Central Market, kami juga tertarik dengan toko yang menjual pernak-perni, gantungan kunci, hiasan dinding, dan souvenir khas KL yang lain. Aku membeli 6 buah gantungan kunci (6RM), 2 buah miniatur petronas (10RM), dan gantungan handphone (3RM). Setelah puas berbelanja dan ringgitku melayang (efek lapar mata), kami kemudian kembali ke stasiun Masjid Jamek.

img20161119161810

Muka-muka kepinginan

Di stasiun, tanpa berlama-lama, kami kemudian membeli tiket koin LRT Kelana Jaya jurusan Putra Height. Harga koin LRT sekitar 6 RM. Tampaknya, karena kami pulang bersamaan dengan pendemo yang pulang juga, menyebabkan LRT penuh sesak. Capek campur lapar jadi satu. Rsanya badan sudah tidak kuat. Sekitar satu jam perjalanan memakai LRT sampai ke stasiun Putra Height. Sesampai di stasiun, kami kemudian memesan taxi seharga 5RM untuk sampai ke platfrom seksyen 7 kontarakan saudara temenku. Sampai kamar, aku tepar. Untung ada mb Harsi, yang baik banget bikinin aku teh anget dan pop mi. Alhamdulillah lambat laun badan ini terasa mendingan.

Diposkan pada Pendidikan

Pendekatan Penelitian Fenomenologis

Dalam penelitian kualitatif terdapat berbagai pendekatan penelitian, seperti studi kasus (case study), ethnografi, grounded theory, dan fenomenologis. Sebagian besar mahasiswa merasa kesulitan membedakan keempat pendekatan tersebut, terutama ciri khas pendekatan fenomenologis. Keterbatasan referensi serta rujukan kata yang agak susah dimaknai jelas menghambat pemahaman tentang penelitian fenomenologis. Lebih jelasnya, silahkan download slide tentang Penelitian Fenomenologis, semoga bermanfaat.

paradigma-fenomenologis